Bayoe's Site Inspiration

The inspiration in living to continue to look for the meaning himself

Welcome To Bayoe's Site ........... "Inspirasi Dalam Hidup Untuk Terus Mencari Makna Diri ..." Saya mohon maaf, untuk sementara Blog ini masih dalam perbaikan pergantian template... Terima kasih

Dalam banyak hal, kenyaris-samaan selalu membingungkan. Kondisi kembar hampir identik yang memusingkan akal dan menggelisahkan kalbu, juga menyiksa jiwa karena kita harus memilih keberpihakan.Adakah cerah mengenali keserupaan yang hakikatnya tak sama ini? Menyibak selubung halus yang menyamarkan ciri-ciri khusus pembeda keduanya; nikmat atau laknat. Hingga kita tak silau memandanginya, tak lelah mencari dan memaknai pencapaiannya.

Berawal dari pemahaman tentang kejelasan tujuan hidup; ridha Allah, sebagai satu-satunya perolehan yang sah bagi apapun bentuk aktifitas yang kita pilih, semua menjadi lebih mudah diurai. Sebab meski ia sendirinya adalah misteri dan ghaib, tetapi ia meninggalkan jejak-jejak yang jelas untuk diikuti. Maka meski kita tidak akan pernah bisa memastikan tercapainya keridhaan Allah dalam sebuah amal, ia tidak akan pernah keluar dari dua syarat utama penerimaan amal; ikhlas sebagai syarat batin, ittiba’us sunnah sebagai syarat zhahir. Begitu selalu adanya.

Dari sinilah, tindakan, harapan, dan capaian menemukan sinerginya. Syariat yang membingkai tindakan, keikhlasan yang melambungkan harapan, serta ketakwaan yang menjadi ukurannya, berpadu dengan manisnya. Jejak-jejaknyajelas terlihat bagi pemilikkecerdasan penting tapi langka ini, karena ia pernah menghasilkan generasisahabat yang bergelar ‘Allah ridha kepada mereka’. Sungguh, ia bukan sesuatu yang tak ada dan bukan pula tak mungkin ada.

Maka seluruh upaya dan hasil yang kasat mata di dunia, harus selalu sejalan dengan keabsahan syariat untuk disebut nikmat. Dan inilah benang halus yang menjadi cirri pembeda dengan musuh kembarnya; azab berselimut nikmat. Yang sering mengecoh pandangan dan mengakau pikiran, hingga hamba-hamba terkutuk menjadi panutan, dan jalan kesesatan menjadi pilihan. Padahal alangkah jauh hakekat keduanya! Sebab yang satu adalah berkah dari Sang Mahakuasa, sedang yang lain adalah hujjah atas pemilikannnya.

Ketika itulah ilmu dan intelektualitas adalah pengantar ikhlas, bukan atribut kecerdasan kosong yang membuat kosong. Kekuatan jasmani dan ruhani adalah jalan makriftat, yang berubah ketundukan dan bukan pengingkaran. Stiap keadaan adalah untuk membela tegaknya kebenaran, bukan mendukung kebatilan. Setiap kesempatan adalah peluang untuk meraih keridhaan Allah, bukan malah mengundang kemurkaan-Nya. Setiap harta foya-foya. Sebab seluruh taat berkebalikan dengan maksiat, maka sebuah pencapaian tak akan lepas dari cara pencapainya.

Akan halnya penerimaan, penghormatan, penghargaan, dan kecintaan yang kita peroleh dari sesame manusia, jika ia kita adalah buah taat dan bukan karena akhlak bejat, maka ia adalah nikamat. Namun jika sebaliknya, ia adalah laknat. Pun demikian pula hasil perenungan yang kita lakukan dalam hidup ini. Apakah buahnya adalah kemantapan iman, yang karenanya disebut nikmat, atau malah menjadikan iman berlumur keraguan yang karenanya disebut azab.

Selalu, setiap detik yang berlalau adalah jenjang menuju Allah. Awal, tengah, hingga akhirnya nanti. Semoga kita tak terpedaya akan miripnya penampakan, sebab hakikat keduanya jauh berbeda. Ya Allah, tajamkan pandangan kami, bersihakn pula kalbu kami, agar ia memandu kami meniti ridha-Mu!

Siapapun akan setuju jika wajah yang kusut dan muram sangat tidak menarik untuk dilihat. Tatapan mata dingin tak bersahabat, yang jika bukan mengesanklan keangkuhan, menyiratkan penderitaaan jiwa yang kronis, juga kegagalan mengatasi masalah diri. Wajah-wajah yang sebisa mungkin, perjumpaan dengannya ingin kita hindari. Rasanya, lebih banyak madharatnya dari pada manfaat yang bias kita ambil dari orang-orang bermuka masam dan cemberut itu?

Baiklah sebaiknya sebagai kepala rumah tangga, tanggung jawab kita memang besar, pekerjaan kita pun melimpah banyaknya. Mencari nafkah dan memimpin keluarga. Keadaan yang sangat mungkin akan memunculkan banyak masalah, memicu stress, dan menyempitkan dada. Tekanannya pun, semakin hari samakin berat. Tidak ada yang memungkiri hal itu. Kalau pun ada, hanya orang bodoh yang lalai dan tidak menyadari besarnya tanggung jawab dipundaknya yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Bagaimanapun, ia bukanlah alas an untuk betrmuram durja. Sebab bermuka masam ke setiap orang yang kita temui bukanlah jawabannya. Alih-alih menyelesaikan masalah, kemuraman yang kita tampakkan malah akan menambah masalah.

Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah, ini adalah sabda baginda Rosulullah SAW yang bias jadi kita hafal. Sebuah resep sederhana dan manjur untuk mengurangi beban jiwa, namun sering kita abaikan. Kita sering merasa berat membagi sedekah murah dan berpahala ini kepada sebanyak mungkin orang. Padahal kita tidak akan pernah rugi jika melakukannya. Kita harus percaya, bahkan meski ia kita bagikan kepada orang-orang yang kita benci sekalipun, ia tetaplah berguna. Jadi, kenapa kita tidak biasakan saja?

Sebab senyum adalah bahasa universal yang mampu meruntuhkan benteng keangkuhan dan kesombongan, mengikis penolakan dan keterasingan, menghempaskan perasaan teranca, juga mencairkan kebekuan dan menghangatkan suasana. Dan serupa senjata pamungkas, senyum bisa memberikan hasil kilat menebarkan rasa nyaman. Ajaibnya, ia menular! Rasa nyaman pun menyebar dengan cepatnya. Semua pihak merasa lega, tenang dan senang. Jadi, kenapa kita tidak mencobanya mulai sekarang jika ia belum menjadi kebiasaan?

Jika senyum adalah sedekah untuk saudara, bagaimana jika kita membaginya untuk istri-istri kita? Tentu mereka lebih banyak menerimanya, dan melakukannya untuk mereka jauh lebih penting. Kalau bisa setiap hari sepanjang waktu. Bisa disebut, senyum y6ang kita hadirkan di dalam rumah tangga menjadi prioritas trsendiri yang harus kita perhatikan. Tapi, sudahkah demikian keadaannya?
Sebab faktanya, banyak suami yang bisa trsenyum, bahkan tertawa lebar saat bersama teman-teman mereka, namun menyapihya untuk anggota keluarganya. Hilang entah kemana. Seolah senyuman adalah barang mahal yang hanya dibagikan saat musim diskon, semisal lebaran, tiba. Padahal rumah tangga bukanlah medan untuk memamerkan kekuasaan. Tapi ia adalah sebuah taman surga tempat hati kita berwisata mencari ketenangannya, mengumpulkan kembali energinya yang hilang, juga memberinya nutrisi yang bergizi tinggi.

Selain menciptakan ketentraman dan kenyamanan adalah salah satu tujuan pernihakan, dimana senyum adalah salah satu sarana yang efektif, kita juga butuh rehat dari kesibukan dan tekanan yang mendera. Lelucon, canda tawa, senda gurau, senyuman, dan keramahan dalambatas keperluan, seperti tidak mengandung kebohongan, tidak berlebihan, dan tidak melalaikan dzikir kepada Allah, saat kita butuhkan. Agar suasana rumah tangga menjadi hangat dan mesra, seta tidak kaku, kering, dan dingin.

Semua bentuk plesiran hati ini adlah semacam ‘charge’ yang akan menguatkan hati bersiap melakukan ketaatan kepada Allah. Sedang hati yang tidak diberi hak istirahatnya, akan mengeras sekeras batu. Dingin dan kaku!

Dan jika kita melakukannya, ternyata kita tidak sendirian. Para ksatria di medan jihad, para sahabat pn tertawa sedang keimanan di dada mereka berupa gunung-gunung yang kokoh menghujam. Para pahlawan puluhan medan perang itu, dalam sebuah riwayat, saling melempar semangka melepaskan kepenatan.Bahkan, baginda Rasulullah SAW adalah suami yang selalau berwajah ceria dan berpembawaan riang gembira. Beliau pernah mandi bersama ibunda ‘Aisyah dengan satu bejana, juga berlomba lari, dua kali, dalam safar beliau berdua.

Jadi, sekarang saaatnya menebar wajah manis penuh senyum kepada sebanyak mungkin orang, terutama anggota keluarga dirumah. Senyum tukus yang memancarkan kehangatan alami nan indah. Dengannya, insyaallah, akan membuat kita awet muda, memiliki imunitas tubuh yang lebih baik, juga menyehatkan jantung. Padahal ia pekerjaan yang mudah, murah, dan berpahala.

Apalagi senyuman itu lahir secara spontan dan penuh kejutan. Selain melapangkan dada, respon yang akan kita terima juga akan sangat melegakan. Hal yang kan membuat kita lebih fleksibel dan rileks menjalani hidup. Siapa yang tidak mau?

Sumber : ar-risalah

About this blog

Blog Archive