Welcome...

Total Pageviews

Follow by Email

Welcome To Bayoe's Site ........... "Inspirasi Dalam Hidup Untuk Terus Mencari Makna Diri ..." ---------------- Blog ini dibuat sejak 1 Pebruari 2008 --------------- Semua yang ada di dalam blog ini penuh dengan inspirasi, yang dapat dijadikan contoh untuk lebih semangat lagi dalam mengarungi hidup ini. Karena hidup adalah perjuangan, tidak ada kata menyerah dan putus asa... Hidup harus terus jalan... So Must Go On... Good Luck Bro...!!!

Sungguh Tak Pantas Mencintaimu

Posted by Bayoe Arwani 5/24/2008

Share

“Sekarang tahu kan kamu, siapa aku?” tanya Fando sembari merentangkan kedua tangannya. Aku Cuma diam. Tak tahu jarus menjawab apa. Tapi aku tak mampu menahan butiran yang cepat muncul di kelopak mata. Hanya menggantung sebentar, sebelum kemudian luruh membelah kedua pipiku. Tak habis piker, akhir-akhir ini Fando kerap menyakitiku. Seolah sengaja memancingku untuk benci padanya. Dan apa yang terjadi barusan, hampir saja membuat aku hilang keseimbangan.


Fando memegang tangan Res, teman kuliah kami juga. Oh Tuhan… Inikah cobaan cintaku? Atau barangkali Fando malu punya cewek berkerudung sepertiku?
“Sudahlah, Tis, udah jelas semuanya semuanya. Aku tak cocok lagi untuk cewek alim macam kamu,” tambah Fando sembari selangkah maju dan menyentuh dua bahuku. Air mataku kian menganak sungai. Aku biarkan saja begitu. Biar, menmjadi sungai airmata yang mengalir deras entah kemana.
Ucapan yang mulai akrab ditelingaku. Sebenarnya aku tahu apa maunya Fando. Ia ingin memutuskan hubungan kami. Anehnya, ia tak berani mengatakan kata putus. Aku sendiri tak tahu. Atau mungkin tak tega? Padahal jika itu ia katakan, meski hati ini sakit, aku siap dengan segala kemungkinan. Biarlah keinginan batinku kandas. Tak mudah memang mengukir cinta pertama sekaligus cinta terakhir bagiku. Lebih-lebih di usia yang terlau hijau. Mustahil mendapatkan itu.
“Aku…” barusan ucapanku hendak meluncur, suara hp Fando bertut-tut. Cowok, yang masih sangat kucintai itu berjalan menjauh. Aku tahu persis suara siapa di hp itu. Pasti Res.
Memang, akhirnya aku mendengar suara Res merajuk pulang bersama Fando. Hatiku nyeri sekali. Sakit rasanya. Tak mampu berbuat apa-apa, kecuali menahan helaan nafas. Meski Fando masih kekasihku, aku tak beranmi berbuat apaun, apalagi melarangnya supaya tak pulang bersama Res.
“Oke, Tisi, pikirkan langkahmu selanjutnya. Sori, aku harus pergi.”
Tubuh Fando pun menghilang. Aku tak mampu menahan isak. Aku menangis sendirian di pojok taman. Setidaknya masih ada keyakinan, aku bersedih dan memangis bukan lantaran takut kehilangan. Melainkan kecewa lantaran sikap Fando yang cepat berubaha dan gampang berpaling pada cewek lain.
“Tisi.”
“Ah, Diana…,” aku berdiri, buru-buru menyusut air mata. Sama sekali tak menyangka kalau sahabatku saat itu sedang memperhatikanku.
“Ngapain lo, belum pulang?” sambungku.
“Sudahlah, Tis. Kenapa kamu menangis untuk cowok macam dia? Sayangi diri sendiri”, Diana menyarankan.
Aku jadi tambah malu. Malu pada diri sendiri. Mungkin Diana benar. Kenapa harus menangis untuk cowok macam Fando? Kekasih pecundang yang senang menyakiti hati cewek?
“Sejak Res jadi penghuni kampus ini, prasangka burukku sudah muncul. Kubilang apa, Fando bukanlah kekasih setia. Pasti kamu disakitinya.
“Aku sendiri tak menyangka.”
“Kenapa kamu masih saja membelanya? Masih berharap hubungan kalian tetap berlanjut?” Diana seolah memprotes.
Aku terdiam. Terasa kalut perasaanku. Bingung. Tiba-tiba kepalaku terasa pening.
“Salut deh aku sama kamu. Yang harus kamu ingat, kesetiaanmu tak membuahkan kebahagiaan.”
Diana, satu-satunya sahabat yang sangat mengerti diriku. Ia selalu antusias mendorong agar aku putus hubungan sama Fando. Aku sendiri masih tercengang atas perubahan Fando. Hampir tiga tahun pacaran, mulai dari semester satu hingga sama-sama seperti saat ini. Sulit dipercaya, begitu mudah Fando berpaling.
Suatu hari, pernah aku bertanya pada Diana. Apa kira-kira penyebab Fando begitu?
“Mungkin bosan, atau barangkali sori, karena kamu cewek alim.”
Tidak kaget aku mendengar opini itu. “Bukankah sejak dulu aku cewek alim?”
Malah pernah sku tersanjung berat saat mendengar pujian dari mulutnya, “Kamu nampak sangat anggun dengan kerudung di kepalamu.”

Musim liburan semester tiba. Seperti tahun kemarin, anak-anak bikin acara naik gunung. Terus terang, kendati cewek, aku demen banget kegiatan itu. Aku pecinta keindahan.
Tapi aku bingung seklai ketika dihadapkan pada kenyataan yang perih. Aku kan tersiksa jika tak bisa ikut, akan lebih tersiksa lagi jika menyaksikan kemesraan Fando dengan Res di gunung nanti.
“Harus ikut, Tisi,” Diana terus memaksa.
“Aku belum mengambil keputusan. Agak bingung, nih,” keluhku.
“Karena Fando dan Res, ya? Biarkan aja mereka. Anggap aja angin lalu.”
“Tak semudah kata-kata, Di.”
“Kamu bisa jauhi mereka selama di puncak.”
“Aku masih akan berpapasan dengan keduanya, karena kita satu kelompok.”
Diana tidak mau ikut jika tidak turut serta. Padahal Diana ketua regu putri. Jika ngambeg, pasti merusak acara. Bisa jadi acara naik gunung gagal total. Oh, Tuhan. Kenapa masalah sekecil ini tak mampu aku atasi? Fando-lah penyebabnya. Benci sekali aku padanya.

Sebuah adegan menyakkitkan kembali berlanjut. Tak menyangka sih sebenarnya kalau malam itu Fando datang ke rumah. Kau bersikap dingin padanya.
“Aku minta, besok kamu jangan menjadi virus bagi kami. Lebih elegan lagi kalau kamu nggak ikut naik gunung.”
Mendengar itu, adrenalinku mengalir naik. Tapi kucoba untuk bertahan.
“Tak kau larangpun, sudah kuputuskan nggak akan ikut! Ngapain capek-capek kemari Cuma untuk melarangku?” sahutku ketus.
“Tinggalkan rumah ini sekarang juga. Muak aku melihat mukamu!”
Tanpa kusuruh dua kali, Fando pun beringsut. Ia nampak marah dengan ucapanku.
Malam itu aku tak bisa tidur. Pikiran melayang, melamunkan saat-saat masih berjalan bersama cowok itu. Indah sekali rasanya. Sampai membuatku terbuai. Yah, yang sangat kusyukuri sampai sekarang, masih kupertahankan kesucianku. Apa jadinya jika aku terlena. Mungkin aku akan menggantung diri saat ini. Diana benar, Fandoi bukanlah cowok setia.

Aku benar-benar tidak ikut. Aku mencoba melupakan bayangan indah tentang pemandangan pegunungan. Biarlah tak kunikmati sekarang. Mungkin lain waktu aku ke gunung itu dengan siapa saja. Dua hari kemudian, kudengar teman-teman sudah pulang ke rumah. Cuma helaan nafas yang bisa kulakukan. Kembali, kenangan lalu melayang di depan mata.
Tahun kemarin, di puncak gunung, kami masih berduaan sebagaimana layaknya sepasang kekasih.
Ah, lamunanku memecah. Kudengar ada suara memanggil.
“Ada yang nyari, Non…”
“Siapa, Bik…”
“Nggak tahu. Katanya sih temannya Non Tisi.”
Buru-buru aku keluar kamar dan langsung ke ruang tamu. Alamak, aku terkejut setengah mati. Terutama begitu kusadari siapa yang duduk di kursi tamu.
“Res?” kataku agak gagu.
“Mbak Tisi…,” gadis itu berdiri dan langsung menubrukku.
Cewek mungil itu menangis tersedu di pelukanku. Tapi kenapa cewek cantik itu tiba-tiba menemuiku?
“Kenapa, Res. Apa yang terjadi?”
“Aku minta maaf, mbak.”
“Sudahlah, kamu nggak salah. Kami sudah tidak ada hubungan lagi. Hak kamu untuk memiliki Fando. Believe me, aku nggak punya perasaan apa-apa. Pesanku, jangan kamu turuti apa yang menjadi keinginan Fando. Cinta kalian belum sampai ke ujung.”
“Bukan itu, mbak. Semua di luar perkiraan dan jauh dari prasangka mbak selama ini. Dia masih mencintai mbak sepenuh hatinya,” jelas Res kepadaku.
“Ah, Res… kamu jangan bercanda disaat situasinya rumit begini,” tukasku seketika.
“Benar kok mbak, aku saksinya. Aku mendengar langsung dari mulutnya. Bahkan suatu ketika Fando pernah bercerita panjang lebar tentang siapa dirinya yang sesungguhnya. Terlebih rasa kecewa dan sakit hatinya saat Fando… maaf mbak, bertemu dengan Ayah mbak beberapa waktu yang lalu, membuat dirinya dihadapkan sebuah jurang yang teramat dalam dan ia harus terjun ke dalamnya. Tapi dia yakin, ini bukan salah mbak.”
“Lalu apa yang sudah dikatakan ayahku pada Fando saat itu, Res?” tanyaku tidak sabar.
“Maaf, mbak. Fando saat itu berpesan agar aku tidak mengatakan hal ini kepada mbak. Lagipula aku juga sudah berjanji padanya untuk tidak mengatakannya. Hal itu pula yang tiba-tiba membuat Fando jadi bersikap seperti ini kepada mbak. Maafkan aku ya mbak…”
“Sebenarnya, akupun tidak menginginkan hal ini terjadi. Aku hanyalah sebuah pelarian bagi Fando. Dia merasa tidak berguna lagi buat mbak. Lalu aku kasihan melihat Fando dengan wajah hampir putus asa setelah sekian lama jalan bersama mbak. Aku hanya mencoba menenangkan hatinya dan berharap hubungan kalian akan baik-baik saja. Namun setelah Fando bercerita banyak kepadaku, akupun jadi sanksi apakah hubungan kalian akan dapat berjalan kembali seperti sedia kala,” lanjut Res kepadaku.
Mendengar cerita Res yang hanya setengah-setengah itu semakin membuat aku jadi penasaran. Terlebih saat Res sempat menyebut-nyebut tentang ayahku. Ada apakah gerangan dibalik semua ini? Mengapa kehadiran ayahku sampai begitu amat membuat hati Fando terguncang? Apa yang baru saja dikatakan ayahku kepada Fando?
“Aah… aku semakin tak mengerti Res, semua ini di luar kemampuanku. Aku sama sekali tidak tahu kalau Fando pernah bertemu dengan ayahku beberapa waktu lalu. Kapan, dan dimana? Bahkan, ayahku pun tak pernah menanyakan tentang teman-temanku. Terlebih tentang Fando, teman dekatku.”
Suatu ketika, pernah terlontar dari perkataan ayahku bahwa keluargaku tidak ingin mempunyai keturunan dari orang-orang dibawah level.
Uupps…. Apakah lantaran hal ini? Apa karena keluargaku adalah orang berada, sehingga tidak mau bergaul dengan orang-orang dibawah derajat kami?
Jika ini yang terjadi, sungguh keterlaluan. Akulah yang akan menjadi orang nomor satu menentang ini. Aku tak ingin mengorbankan kebahagiaanku hanya untuk mengikuti keinginan orang tua yang kolot dan teramat klasik bahkan asing bagi aku. Toh yang akan maenjalani kehidupan berumah tangga kelak adalah aku, suamiku dan anak-anakku. Bukan mereka.
“Tenang mbak, jangan emosi begitu. Bagaimanapun, yang kita butuhkan adalah restu dari kedua orang tua. Demikian juga yang telah dikatakan Fando kepadaku. Meski kita berontak dan tidak sejalan dengan kemauan kedua orang tua, kita tak dapat berbuat banyak selain menerima takdir ini,” jelasnya.
“Apa…? Fando…?" tanyaku hampir tidak percaya.
Dan aku heran, mengapa Res begitu menjadi dewasa dalam hal ini. Bukan aku.
Aku menjadi tidak berdaya dengan kata-katanya. Akhirnya kini aku menjadi tahu dan mengerti mengapa Fando bersikap demikian kepadaku. Fando memang bukanlah apa-apa dibanding dengan keluargaku yang terbiasa hidup bergelimangan harta. Fando adalah satu dari sekian ribu bahkan jutaan orang yang kurang beruntung.
Namun aku yakin, cinta kami akan tetap abadi selamanya meski kita tidak dipertemukan dalam sebuah ikatan cinta di dunia ini. Maafkan aku juga Fando, dalam situasi sulit seperti ini aku telah mengotori fikiranku dengan berburuk sangka kepadamu. Maafkan aku Fando…

# Ditulis berdasarkan pengakuan Tisi (bukan nama sebenarnya) kepada Bayoe.


0 comments

Post a Comment

Bayoe say's, Terima Kasih Atas Komentar Anda

Web blog ini masih dalam pengembangan. Jika terdapat kekurangan di sana sini, tak ada kata yang tepat terucap selain kata maaf... Saran dan kritik membangun, senantiasa kunanti" ------------ Apabila ada yang bermanfaat di dalam blog ini, silakan anda mengambil dari posting ini, dan harap disertakan sumbernya. Terima kasih.
There was an error in this gadget

Popular Posts