Welcome...

Total Pageviews

Follow by Email

Welcome To Bayoe's Site ........... "Inspirasi Dalam Hidup Untuk Terus Mencari Makna Diri ..." ---------------- Blog ini dibuat sejak 1 Pebruari 2008 --------------- Semua yang ada di dalam blog ini penuh dengan inspirasi, yang dapat dijadikan contoh untuk lebih semangat lagi dalam mengarungi hidup ini. Karena hidup adalah perjuangan, tidak ada kata menyerah dan putus asa... Hidup harus terus jalan... So Must Go On... Good Luck Bro...!!!

Kerelaan Hati

Posted by Bayoe Arwani 6/15/2008

ShareSaat aku terjatuh, aku terpuruk dalam keterpurukan karena pengkhianatan. Dialah yang selalu setia menemaniku, menghiburku bahkan dia rela meninggalkan kepentingannya demi diriku.
Tyan itulah nama panggilannya. Anak konglomerat dari kota Yogyakarta. Aku kenal Tyan itupun dari sahabatku Trisna, pada saat acara ulang tahunnya dan dari perlenalan itu terjadilah suatu komunikasi yang manis antara aku dengan Tyan. Perhatiannya kepadaku membuat aku terlena akan kebaikannya dan tak lama kemudian kami mengucapkan ikrar hidup bersama.

Mulanya aku tak menduga, kalau hubunga itu akan terjalin sedemikian indahnya. Bagaimana tidak, Tyan waktu itu masih duduk dikelas III SMA. Sedangkandiriku duduk dibangku kuliah. Perbedaan usia tak jauh berbeda.
Tetapi benih - benih cinta itu tetap tumbuh dan semakin bersemi dihati kami. Sebelumnya aku merasa ragu akan ketulusan dan kesungguhannya mencintaiku.
Bertepatan dengan valentine’s day, Tyan mengajakku pergi ke suatu tempat yang sebelumnya belum pernah kukunjungi. Sebuah kolam ikan dekat vila yang sepi, namun udara disekitarnya nampak anggun memanjakan kami akupun terlena dengan pemandangan disekitar kolam.
Peristiwa itu menjadikanku cewek paling bahagia di dunia. Setiap kali Tyan mengajakku ke kolam itu aku merasa nyaman seolah olah - olah rasa pengat dan jenuh setelah menghadapi ujian semster hilang dengan sendirinya. Canda tawa dan senyumanpun selalu menghiasi hubungan kita. Satu pandangan darinya lebih aku sukai daripada seisi dunia ini. Dimanapun aku berpijak pasti kubawa namanya yang tersimpan dan terukir dihatiku.
“ Tania! “ panggil Tyan mendekatiku. “Ya kenapa? ” jawabku menatapnya tajam. “ Hari ini adalah hari terakhir kita bertemu, aku akan pergi ke Belanda untuk menuntut ilmu disana dan disamping itu aku menemani Papaku yang di tugaskan di Belanda,” kata Tyan memelukku.
“ Tyan kamu bohongkan? Kamu tak sungguh – sungguh meninggalkanku, kamu pasti bercanda, “ jawabku sambil tak percaya akan kepergiannya. Tak terasa butiran air mata yang bening menetes di pipi. Akupun tak tersa menatap matanya.
Sehari setelah kepergian Tyan, aku mersa ada yang kurang dalam hidup ini. Karena Tyan mampu memberiku ketegaran disaat aku terombang - ambing, ternyata masih ada cowok yang mau mengerti perasaanku ini.
Waktupun terus bergulir tak terasa kepergian Tyan sudah tiga tahun. Aku selalu setia menunggunya meskipunselama ini tak pernah ada kabar tentang dirinya.
Kebersamaanku dengan Tyan hanya tiga bulan. Walaupun hanya seumur jagung, namun banyak menyisakan kenangan yang indah lebih – lebih di kolam ikan dekat vila itu.
Belum lama ini terdengar kabar Tyan akan kembali. Akupun bersiap - siap menyambut kedatangannya. Beberapa hari kemudian ada serombongan mobil berwarna silver dan hitam datang menuju ke rumah Tyan. Namun yang kuherankan, mengapa dari sekian banyak mobil, ada satu mobil ambulance. Hatiku berdebar dan bertanya – tanya, siapakah yang meninggal ? Akupun bergegas ke rumahnya. Saat kulihat sekujur jenazah yang berbaring di sebuah lantai beralaskan tikar serta bertutupkan kain putih dengan oelan aku membukanya. Tubuhku lemas dan tak berdaya setelah melihat jenazah Tyan.
“ Tyan................!” akupun menjerit. Kepergian Tyan menghadap sang Illahi membuatku trauma untuk mencintai seorang cowok. Namun tak lama kemudian, ada wanita separuh baya menghampiriku.
“ Tania ya ?” tanyanya menyakinkan. “ Tania ada sepucuk surat untukmu dari Tyan sebelum dia meninggal dunia,” Katanya sambil menyodorkan dan pergi meninggalkanku.
Akupun tak kuasa membuka surat itu. Aku begitu rapuh tanpanya. Setiap hari kupandang surat itu yang tergeletak di meja belajarku. Setelah beberapa bulan kepergian Tyan, aku memberanikan diri membaca surat itu.



My darling Tania,
Tania, aku harap kamu baik – baik saja. Sebelumnya aku minta maaf karena selama ini aku telah membohongiku. Aku pergi ke Belanda bukan untuk menuntut ilmu tetapi aku berobat. Selama ini aku bergulat dengat penyakit. Penyakit yang sulit untuk disembuhkan aku tahu umurku tak akan bertahan lama, maka dari itu aku pergi meninggalkanmu dan berharap kamu melupakanmu untuk selamanya, walaupun berat aku meninggalkanmu tetapi semua itu adalah terbaik bagimu.
Aku hanya sedih, karena aku tak dapat meliahat wajahmu sebelum ajal menjeputku. Aku berharap kamu bisa melupakanku dan aku berdo’a semoga kamu mendapatkan pengantiku yang lebih baik. Aku tahu engkau sangat mencintaiku begitupun aku.
Sekian surat dariku, atas perhatianmu kepadaku akan kukenang selamanya.

Kekasihmu
Tyan


Setelah surat dari Tyan kubaca, tak bisa ku berkata – kata lagi. Aku hanya diam seribu bahasa. Begitu berat aku menerima kenyataan itu percaya tidak percaya itulah yang terjadi Tyan mengubah segalanya. Mengubah harapan bahagia menjadi keputusasaan mungkin ini sudah suratan takdir.
Aku berusaha tegar tetapi usahaku itu sia – sia. Begitu rapuh diriku karena teringat bayangan Tyan.
Dari jauh kulihat makam yang masih memerah dalam batin kurasakan kehancuran yang tak berujung. Semoga namanya tetapsemerbak dan selalu terkenang dalam suatu keabadian di sisi-Nya.
“ Tania, kamu ngapain bengong di rumah saja. Ayolah kita jalan – jalan !”ajak Trisna sambil meraih tanganku.
Aku hanya tersenyum. “ Ayolah jangan dibuat pikiran yang lalu biarlah berlalu kini saatnya kamu menikmati hidup dan nanti kamu cepat tua lho!” hiburnya.
“ Ya sudah tunggu dulu, aku ganti pakaian dulu,”jawabku.
Setelah semuanya siap, aku dan Trisna pergi ke suatu acara yang tak lain adalah acara ulang tahun temanku waktu SMP.
“ Andra!Andra!”panggil Trisna. “Trisna siapa cewk itu?”tanya Andra menatapku. Akupun hanya tersenyum melihatnya,aku merasa peristiwa itu sama seperti pertama kali aku mengenal Tyan dan anehnya andra mengajakku berdansa. Sebelumnya aku menolak tetapi karena bujukan Trisna sehingga menerima ajakannya.
Dari pertemuan aku merasa Andra adalah sosok dari seorang Tyan. Hari valentin’s day, Andra mengungkapkan perasaannya padaku. Dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Aku diam sejenak, aku tak percaya. Mengapa hari kasih sayang itu sangat berarti bagiku karena hari itu adalah hari yang membuatku tersenyum. Akupun menerimanya menjadi kekasihku.
Andra sangat menyayangiku, di selalu ada untukku. Dia mampu menghapuskan dukaku karena kepergian Tyan. Namun, aku takpernahsanggup untuk mencintainya. Sesuatu yang gelap seaka – akan menjadi penghalang kami.
Tak ada sedikitpun untuk jujur padanya. Aku mersa diriku tak pantas untuknya. Kukotori cinta sucinya dengan penghianatan yang tak berujung dan itu pula yang menyebabkan aku tak berani menegaskan perasaan cintaku padanya. Kejujuran yang tak pernah kumiliki seperti yang dia miliki membuatku merasa hancur untuk dicintainya.
Setelah kepergian Tyan, aku sering ganti – ganti cowok, walaupun aku tak mencintainya setulus hati dan meskipun saat itu aku masih pacaran dengan andra. Ketakutan akan ditinggalkannya membuatku semakin terpojok dan tak bisa melangkah lebih jauh. Aku takut karena kejujuran itu dia akan melepaskan dirinya dariku.
Aku tak dapat mencintainya seperti aku mencintai Tyan, tak sanggup bagiku untuk jujur padanya tentang semua ini. Namun aku juga tak sanggup untuk berhenti dan menghapus cintaku pad Tyan. Aku tahu aku telah menyakitinya. Tatapan mata beningnya, senyum tipis, namun tetap manis, menyejukkan hati selalu kutemui setiap waktu. Itu pula yang menyebabkan aku merasa semakin terikat padanya, rasa cinta yang dulu tak pernah ada kini hadir dan bersemi layaknya bunga mawar yang sedang mekar.
Rasa teduh, damai, nyaman, dan tentram saat berada di sisinya. Hatiku remuk, hancur manakala melihatnya bersedih. Seperi waktu itu dia melihat kedekatanku dengan seorang cowok bernama Fandi. Diam dan hanya diam dengan tatapan sendu lalu dia berlari ke suatu tempat, akupun mengejarnya. “ Andra!Andra! tunggu aku,”kataku memluknya dari belakang. “ Tania selama ini aku terlalu bersabar melihat kelakuanku padaku. Aku diam bukan berarti tak tahu. Kini kuungkapkan semua kekesalan itu,”kata Andra.
“ Andra maafkanlah aku, aku hanya bersedih karena kepergian Tyan,” jawabku.” Aku tahu, aku mengerti perasaanmu, apakah semua bisa kembali seperti dulu ? Apakah Tyan bisa hidup kembali ? tidakkan ?” kata Andra.
Akupun menangis sambil menyesali perbuatanku. “ Tania!” kata Andra sambil memelukku. “ Jangan tinggalkan aku, aku sangat menyayangimu,” kataku.
Setelah peristiwa itu tak ada pertengkaran antara aku dengan andra. Kini tak terasa hubungan kita sudah satu tahun. Kesedihan itu tak tampak lagi di wajah Andra. Apapun kuimnginkan darinya selalu aku daptkan. Tak pernah dia sekalipun dia menolak dan mengingkarinya, tak pernah kudapatkan kesempurnaan seperti yang dia berikan padaku dari sekian banyak cowok yang kukenal. Aku semakin yakin akan ketulusannya, aku semakin tenggelam dalam kebaikannnya padaku.
Malam minggu Andra mengajakku jala – jalan ke taman dekat rumah neneknya. Ada seseorang yang mendekatinya dan senyum padanya, aku begitu cemburu dan terbakar. Aku merasa Andra hanya milikku, tak ada yang berhak melainkan diriku. Aku tahu aku egois dan aku yakin Andra tak akan mengkhianatiku, hingga saat ini dia tetap disisiku.
Karena Andra aku bertekad meninggalkan kebiasaan burukku sebelum terlambat. Kubuka lembaran baru dengan penuh sejuta rasa untuk menyambut datangnya kebahagiaaan yang kutunggu selama ini. Aku tak ingin larut dalm kekecewaan dan kesedihan karena kepergian Tyan.
Bulan depan aku dan Andra akan melangsungkan pertunangan. Namun, sebelum pertunangan itu diajukan aku mengajuka persyaratan yaitu pertama, aku ingin pergi ke makam Tyan untuk terakhir kalinya. Kedua pertunangan itu harus berlangsung tanggal 14 Februari, yaitu bertepatan dengan hari valentin’s.
Andrapun setuju. Kamipun pergi ke makam Tyan dengan membawa bunga. “ Tania, sudah saatnya kita pulang,” ajak Andra meraih tanganku. Kamipun bergegas pulang perasaan legapun ada dibenakku. Pada tanggal 14 Februari kami melangsungakan pertunangan.
Tak banyak yang diundang hanya saudara, tetangga, dan sahabat – sahabat kami. Walaupun pesta tak begitu meriah kamipun merasa sangat bahagia.
Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Kepercayaan yang dulu ada sekarang sirna. Andra pergi meninggalkanku, akhirnya harus kuterima lagi luka yang kesekian kalinya. Kadan aku tak mengerti kenapa aku harus mengalami luka dan luka lagi.
Waktupun terus berlalu, aku dan Andra berpisah dan kini aku hanya bisa mengenang hari – hari saat aku bersama Andra. “Trisna ngapain kamu disini,” tanyaku. “ Aku mencarimu, ingin kubicarakan sesuatu. Sebelumnya aku minta maaf. Karena aku, kamu banyak penderitaan yang kau alami, mulai perkenalan Tyan dan Andra,” kata Trisna. Aku hanya diam dan memeluk Trisna. “ Trisna tidak ada yang perlu dimaafkan ,” kataku. “ Tania, kamu masih sayang Andra?” tanya Trisna. “ Tak usah menyebut namanya didepamku,” jawabku. “ tetapi kemarin Anmdra membicarakan kamu, dia ingin meminta maaf padamu,” kata Trisna.” Apa! minta maaf! Tidak salah,” jawabku. “Tania, sebenarnya Andra masih menyayangimu dia meninggalkan kamu karena sesuatu yang tak mungkin ditolak,” ujar Trisna.
Akupun hanya tersenyum mendengar Trisna cerita, kini tak kurasakan getar – getir indah seperti dulu. Hatiku semakin beku dan membatu untuk menerimanya kembali. Sepertinya luka yang digoreskan sulit untuk disembukan lagi. Begitu sakit yang kurasakan atas perlakuanya paduku dulu.
Sebelumnya tak menduga andra yang begitu baik kini berubah menjadi seorang pengecut. “ Tani, bagaimana pendapatmu ?” tanya Trisna. Akupun menarik nafas diam – diam. “ Ahandra menghadapi masalahnya saja tidak mampu, bagaimana kelak dia bisa menjagaku. Sekarang aku sudah menutup pintu hatiku buatnya,” kataku. Sekarang aku meryakan hari valentin bersama teman – temanku saja, dan aku berharap pada Andra jadilah yang terbaik bagi semua orang dan untuk diriku aku tetap tegar walau kegagalan cinta membuatkumenuju jurang keputusasaan dan aku yakin Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya dan mungkin Tuhan berencana lain.
“ Tania, aku minta maaf karena selama ini aku menyembunyikan sesuatu darimu, aku merbut kebahagiaanmu yang baru kamu capai,” ujar Trisna. “ Kebahagian apa?” tanyaku. “ Apakah kamu tahu? Apakah kamu lupa? Siapa cewek yang membuat Andra meninggalkanmu?” tanya Trisna. “ Tidak! Toh aku sudah lupa akan hal itu,” jawabku. Apakah kamu mau memaafkan cewek itu?” tanya Trisna. Aku terdiam apa maksud semua yang dilontarka Trisna. “ Tania, cewek itu adalah aku,” ujar Trisna sambil memelukku dan menangis. “Apa ! kau!” jawabku terkejut melepaskan pelukannya dan pergi. Aku tak dapat menahan rasa marah rasa sakit hatiku. Tangisan air mata tak cukup untuk mengobati luka ini. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Sahabat yang aku percaya membuat aku jadi merana dan menangis.
Dahulu luka yang pernah terkubur kini hadir karena buah kejujuran Trisna. Tak lam kemudian terdengar kabar pertunangan mereka. Aku tahu apa yang harus aku rasakan saat ini. Aku hanya terluka terlena dan terbui akan kebaikan yang dipancarkan Trisna. Tak lam kemudian Trisna membawa undangan. “ Tania !” ujar Trisna. Akupun lari dan menghindar darinya. “ Tania, tunggu dulu penjelasanku,” ujar Trisna. “ Kau adalah pengkhianat,” jawabku. “ Kau salah Tan, aku bertunangan bukan kehendak kita keluargaku dan keluaga Andar yang menjodohkanku, sebelunya aku menolak tetapi karena waktu itu ibuku mencoba bunuh diri aku hanya bisa menuruti kehendak beliau,” kata Trisna memegang bahuku. “ Trisna benarkah semua yang kau katakan,” tanyaku. Ternyata selama ini aku telah salah menilai Trisna dan Andar. Memng cinta tak harus memiliki.
Seminggu kemudian setelah Trisna ke rumahku pertunangan merekapun dilaksanakan. Akupundatang menyaksikannya, aku sadar bahwa aku tak pantas untuk Andra Trisnalah yang pantas. “ Tania terima kasih akan kehadiramnmu,” ujar Andra. “ Ya sama – sama,” jawabku. “ Tania, aku minta maaf ya,” ujar Andra. “ Sudahlah Ndra aku sudah melupakannya,” jawabku. Acarapun selesai dengan suka cita setelah peristiwa itu aku merasa lega. Mungkin aku tak berjodoh dengan Andra, tak ada yang harus disesali, karena penyesalan itu tak ada artinya.
“ Tania, kamu memang berhati malaikat,” ujar Trisna. “ Walaupun aku dan Andra telah menyakitimu kamu tetap tabah dan memaafkan kami,” ujar Trisna. “Trisna, Andra kalian jangan sia – siakan amanat ini, kalian harus tetap bersatu. Aku tahu Andra adalah cowok yang bertanggung jawab dan dapat menjagamu,” kataku sambil memegang tangan mereka berdua.
Setelah peristiwa itu, aku mersa tahu arti hidup yang sebenarnya. Hidup harus selalu berkorban pada orang yang ada di sekitar kita.

By. Bayoe Arwani' 2004.

0 comments

Post a Comment

Bayoe say's, Terima Kasih Atas Komentar Anda

Web blog ini masih dalam pengembangan. Jika terdapat kekurangan di sana sini, tak ada kata yang tepat terucap selain kata maaf... Saran dan kritik membangun, senantiasa kunanti" ------------ Apabila ada yang bermanfaat di dalam blog ini, silakan anda mengambil dari posting ini, dan harap disertakan sumbernya. Terima kasih.
There was an error in this gadget

Popular Posts