Welcome...

Total Pageviews

Follow by Email

Welcome To Bayoe's Site ........... "Inspirasi Dalam Hidup Untuk Terus Mencari Makna Diri ..." ---------------- Blog ini dibuat sejak 1 Pebruari 2008 --------------- Semua yang ada di dalam blog ini penuh dengan inspirasi, yang dapat dijadikan contoh untuk lebih semangat lagi dalam mengarungi hidup ini. Karena hidup adalah perjuangan, tidak ada kata menyerah dan putus asa... Hidup harus terus jalan... So Must Go On... Good Luck Bro...!!!

Ayah, Ketika Matanya Mulai Berkaca

Posted by Bayoe Arwani 11/12/2008

Share

Dulu, kisah sebuah memori

Ayah! Nama yang cukup sinonim dengan ketegasan, kegarangan, keseriusan dan kemauan yang amat tinggi untuk melihat semua arahannya dipatuhi.

Saya juga tidak terlepas daripada semua itu hingga menyebabkan suatu masa saya amat tidak terpuas hati dengan undang-undang mesti patuh dengan apa yang diarahkan tanpa kompromi. Biasalah idealis jiwa remaja menyebakan perasaan memberontak bila dipaksa.


Membesar di kampung menjadikan saya amat terbiasa dengan semua jenis permainan kotor. Sungai, hutan dan lumpur bagaikan sinonim dengan anak-anak kampung. Namun apa yang berlaku pada saya dan adik-beradik adalah sebaliknya.

Dunia kami hanyalah buku, rumah dan halaman rumah saja. Sesekali kami dihalau ke surau dan apa yang paling meletihkan apabila kami adik-beradik sedari umur 5 yahun dipaksa untuk mengikuti pengajian Al-Quran tepat selepas dhuhur dan kelas pengajian ”Fardhu Ain” pada waktu malam selepas maghrib di rumah guru yang berlainan. Kakak saya khatam Al-Quran umur 8 tahun. Semuanya menyiksa waktu itu.

Masih terngiang ditelinga saya bunyi libasan rotan Ayah apabila nampak saja saya atau adik lelaki saya yang hanya beda 2 tahun ke sungai atau bila kami coba protes karena penat dan membolos mengaji Al-Quran. Semua amat menyiksa jiwa kanak-kanak saya dan adik lantaran hidup terikat.

Terkadang hati saya dongkol taerhadap ketegasan Ayah. Kadang saya curi waktu keluar mandi di sungai tanpa sepengetahuan Ayah bersama kawan-kawan. Hati kanak-kanak mana yang tidak tertarik bila melihat kawan-kawan lain bebas berkubang di sungai selama yang mereka mau tanpa disekat.

Seingat saya, usai berkubang di sungai saya akan berjemur mengeringkan pakaian dan yang paling penting harus elakkan bertemu ayah 3 atau 4 jam selepas mandi untuk menghilangkan merah mata tanda mandi di sungai.

Namun seingat saya, tetap saja terkadang membolos mengaji walau kadang-kadang kena rotan dengan guru Al-Quran. Yang tersemat hingga kini dalam ingatan saya ialah ”lihat mata ini” sambil rotan tepat menunjuk ke anak mata.

Saat itu Tuhan saja yang tahu betapa kecutnya hati dan takutnya hingga yang pasti saya akan menangis tanpa suara dan terus membaca dalam nada terisak-isak. Mata berkaca tapi takut mau mengeluarkan suara dan apa yang pasti saya tidak akan dipujuk.

Indahnya kenangan itu...

Masa itu saya melihat dari kaca mata kanak-kanak. Geram dan tidak puas hati, namun semuanya saya telan juga lantaran rasa hormat dan takut pada Ayah amat menebal.

Kini, Kisah Sebuah Realita

Ketagasan ayah saya teruji dengan kedewasaan kami adik-beradik. Dalam umur yang menginjak ke umur ”subsidi” ketegasannya kian bertukar penyayang dan sensitif.

Kali pertama saya menyaksikan mata ayah mulai berkaca apabila saya naik ke mimbar menyampaikan ucapan mewakili pelajar. Sengaja saya tidak memberitahu bahwa saya ditunjuk menyampaikan ucapan tersebut.

Pada diri saya, ditunjuk mewakili pelajar menyampaikan ucapan tidaklah mengandungi arti apa-apa dalam catatan pribadi lantaran saya sebenarnya anti protokol, anti-majlis keramaian, anti-protokoler dan ”anti-riya”. Pada saya apalah penghargaan kalau dibandingkan dengan hakikat ilmu yang ada. Malulah diri ini.

Lantaran terkejut mungkin, apabila saya berucap di pentas, mata ayah berkaca. Kata paman saya yang juga hadir saat itu, ”Paman tengok ayah kamu menangis saat kamu berucap tadi dan paman pun menangis juga”.

Saya seakan tidak percaya lelaki yang amat tegas dalam mengekang kebebasan sosial hiodup saya menangis dengan kejayaan kecil itu, padahal saya sebenarnya ingkar dengan kehendak ayah saya yang membenarkan saya belajar ilmu agama ke tanah para nabi. Saat itu ayah menyuruhku belajar di universitas negeri.

Kini ketegasan bertukar harapan. Harapan untuk melihat ”anak malang yang terdidik liku hidup pahit yang panjang ini” mampu pulang dengan ilmu yang sahih dan mampukah dijuluk Ulama?

Bila mata ayah berkaca, rasa sebak memenuhi dada dan hati pilu tidak terkata. Harapan perlu dipenuhi, impian perlu diwujud dan janji akan pasti ditagih. Moga Allah berikan kita kekuatan, ketabahan dan laluan mudah dengan rahmat dan inayah-Nya dalam menempuh hidup.

Saya yakin anda juga punya ayah. Ayah anda bagaimana? Itu tidak penting, tapi yang pasti ayah kita semua sama berharap dan impian yang sama untuk melihat kita berjaya dan mampu berfungsi di lapangan ummah.

Sumber : Mutiara Amaly Vol. 42.
Diedit dan diposting kembali oleh : Bayoe Arwani

0 comments

Post a Comment

Bayoe say's, Terima Kasih Atas Komentar Anda

Web blog ini masih dalam pengembangan. Jika terdapat kekurangan di sana sini, tak ada kata yang tepat terucap selain kata maaf... Saran dan kritik membangun, senantiasa kunanti" ------------ Apabila ada yang bermanfaat di dalam blog ini, silakan anda mengambil dari posting ini, dan harap disertakan sumbernya. Terima kasih.
There was an error in this gadget

Popular Posts