Welcome...

Total Pageviews

Follow by Email

Welcome To Bayoe's Site ........... "Inspirasi Dalam Hidup Untuk Terus Mencari Makna Diri ..." ---------------- Blog ini dibuat sejak 1 Pebruari 2008 --------------- Semua yang ada di dalam blog ini penuh dengan inspirasi, yang dapat dijadikan contoh untuk lebih semangat lagi dalam mengarungi hidup ini. Karena hidup adalah perjuangan, tidak ada kata menyerah dan putus asa... Hidup harus terus jalan... So Must Go On... Good Luck Bro...!!!

Ibu, Ketika Hatinya Mulai Berbisik

Posted by Bayoe Arwani 11/12/2008

Share

Ibu! Nama yang tidak dapat dipisahkan dalam kotak memori setiap setiap insan. Pertarungan nyawa dan ketabahan menahan kesakitan mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anak bukanlah perkara asing dalam catatan diary hidup seorang ibu. Ghalibnya itulah tugas yang tercatat sebagai seorang ibu yang benar-benar berfungsi dalam mendidik anak-anak. Benarkah?

Air mata, kelembutan, kasih sayang dan teman di masa susah atau senang adalah sebuah nukilan khas yang boleh saya dedikasikan buat ibu saya. Malah hemat saya juga tersemat utuh menyatakan semua ibu di dunia ini punya rasa yang sama. ’Atifah dan naluri keibuan ini adalah sunnatullah yang tercipta bermula daripada Hama AS.

DULU, KISAH SEBUAH MEMORI

Masih tersemat utuh dalam ingatan saya betapa ibu saya cukup mudah mengalirkan air mata. Semasa saya atau adik saya dirotan ayah, ibulah selalunya akan membela dengan aliran air mata.

Semasa kakak saya yang sulung melangkahkan kaki meninggalkan rumah mengikut suami selepas majelis akad dilangsungkan, ibu saya menghantar kepergiannya dengan linangan air mata

Masa itu saya cukup bingung kenapa ibusaya menangis sedangkan kakak saya pergi secara terhormat mengikuti suami. Masa itu saya buntu tidak berjawab.

Rumah menjadikan anak-anak amat rapat dengan ibu. Masih terbayang dibenak saya hingga kini betapa kalutnya ibu saya setiap pagi menyediakan sarapan sebelum saya dan adik-adik ke sekolah. Padahal saya diantara anak yang cukup susah untuk makan pagi, meski hanya minum. Yang pasti ibu saya akan membawa minuman hingga ke pintu luar dan akan pastikan saya mengambil sarapan walaupun dengan hanya seteguk air.

Masih terngiang kata-kata ibu bila saya mulai nakal tidak mau sarapan. ”minumlah sedikit supaya cerdas di kelas” atau kadang-kadang ibu juga membujuk ”Tak baik itu, minum sedikit nanti tak berkah belajar”. Mungkin karena takut, saya selalunya akan memaksa diri minum juga walau seteguk walaupun apa yang pasti tabiat saya yang jarang bersarapan melekat hingga kini karena tiada lagi yang memaksa saya bersarapan.

Ketika abang ipar saya melanjutkan kuliah, sejurus kemudian lahir anak sulung menjadikan hidup mereka sekeluarga agak susah. Berbekal gaji yang pas-pasan dari mengajar, tidaklah cukup. Hidup menyewa rumah cukup mahal..., hati saya pilu dan kadang-kadang mata saya juga berkaca.

Pernah saya bergurau pada kakak saya untuk menaruh anak satu ke kampung biar dirawat ibu, saat melahirkan anak yang kedua. Reaksi yang saya terima hanyalah linangan air mata tanpa kata. Kakak saya menangis bila ada yang mau memisahkan dia dari anak-anak. Tekadnya biarlah susah macam mana sekalipun asalkan anak-anak tetap bersama.

Pernah suatu ketika seusai melahirkan anak kedua, selama 40 hari kakak saya ke klinik dengan menaiki bus umum bersama 2 anaknya. Yang sulung berumur dua tahun digandeng dan anak kedua yang baru berumur sebulan digendong, menaiki bus untuk ke klinik dalam kesesakan penumpang.

Hati mana yang tidak sedih bila mendengar kabar susah kakak sebegitu. Tidak mampu saya bayangkan betapa susahnya hidup mereka. Namun semua itu diceritakan setelah abang ipar saya tamat kuliah dan sekarang menjadi dosen di universitas dalam bidang Psikologi dan Pendidikan Anak. Sesungguhnya perlu saya iyakan, dibalik kehebatan seorang lelaki rupanya ada jasa insan tabah yang bernama istri.

KINI, KISAH SEBUAH REALITA

Pandangan saya bahwa ibu saya hanya mampu menangis bila berpisah dengan anak-anak rupanya meleset. Saat saya naik ke mimbar untuk menyampaikan ucapan mewakili pelajar, ibu saya tidak menangis. Saat di lapangan terbang ketika menghantar saya ke tanah para nabi, ibu saya juga tidak menangis.

Masih saya ingat senyuman dan pelukan terakhir tersebut, tidak menunjukkan reaksi sedih malah ibu saya nampak tenang dan gembira. Apa yang terjadi sebaliknya, saya sebak dan mata saya sedikit berkaca sebagaimana ayah. Lama saya berpikir kenapa ibu menjadi tegas dan tidak menangis ketika mengantar saya di Airport. Seminggu selepas itu saya menelepon ibu saya dan saya langsung bertanya kenapa demikian jadinya. Ibu saya bercerita bahwa sejak 3 tahun sebelumnya beliau mempersiapkan diri menghadapi perpisahan ini... Katanya lagi, kini tiada apa lagi yang mau disedihkan karena hasratnya untuk melihat saya menjadi sorang berilmu kian nyata.

Ibu saya tidak menaruh harapan yang terlampau tinggi terhadap saya dan kakak beradik lelaki yang lain dan tidaklah se’standart pada pandangan manusia lain. Katanya, beliau sudah puas hati sekiranya anak-anak berilmu, mampu menjadi imam di masjid dan mampu berbagi ilmu dengan orang kampung. Pada saya tanggungjawab itu susah dan harapan itu tinggi. Anda bagaimana?

Bila tegas ibu mulai beraksi , bila hati mulai berbisik, tiada lagi derai air mata dan kasih bertukar harap, tegas mulai menutur kata. Kasih perlu dibukti dan harapan perlu dipenuhi. Moga Allah mudahkan jalan untuk kita... Salam dedikasi buat para ibu dan para calon ibu...

Sumber : Mutiara Amaly Vol. 42.
Diedit dan diposting kembali oleh : Bayoe Arwani


0 comments

Post a Comment

Bayoe say's, Terima Kasih Atas Komentar Anda

Web blog ini masih dalam pengembangan. Jika terdapat kekurangan di sana sini, tak ada kata yang tepat terucap selain kata maaf... Saran dan kritik membangun, senantiasa kunanti" ------------ Apabila ada yang bermanfaat di dalam blog ini, silakan anda mengambil dari posting ini, dan harap disertakan sumbernya. Terima kasih.
There was an error in this gadget

Popular Posts